Jepang…

Siapa yang tidak mengenal Negara Jepang ? yang tumbuh dengan pesat setelah peristiwa bom yang sangat dasyat itu. Jujur saya ingin sekali suatu saat pergi ke Negara tersebut, dan salut dengan pendidikan disana, yang lebih menitik beratkan pada pendidikan moral.

Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.

Dari pendidikan dini mereka sudah lebih menitik beratkan kepada pendidikan “Moral”. Dan “Moral” inilah fondasi yang ditanamkan secara sengaja  pada anak – anak di Jepang.

Dan dari info teman saya yang sedang bertugas di sana, di pendidikan Sekolah Dasar ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang.

Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur.

Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain.

Empat kali dalam seminggu, anak temen saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini

Membicarakan masalah materi buat mereka adalah hal yang memalukan,dan dianggap rendah di Jepang. Anak – ana sekolah dasar tidak ada yag membawa Handphone atau barang berharga lainnya

Penanaman moral yang ditanamkan di sekolah saling berkeselarasan dengan kehidupan di masyarakat, jadi apa yang mereka lakukan di sekolah, di rumahpun mereka juga melakukannya., dan orang tua mempertajam pendidikan yang sudah dilakukan oleh gurunya.. Sungguh berbeda dengan pendidikan di Indonesia, anak – anak sekolah dasar sudah membawa handpone dan saling pamer gadget yang dimiliki, selain itu banyak orang tua yang merasa kasihan anaknya di sekolah disuruh bersih – bersih WC maka di rumah disayang – sayang bagaikan putri dan pangeran. Sungguh menjadi bahan perenungan ya, disaat pendidikan di Indonesia dititik beratkan pada penguasaah materi yang banyak sekali, kalau bisa anak – anak Indonesia serba bisa deh, dan itu acap kali mengabaikan penerapan nilai moral.

Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

Dan pendidikan awal berasal dari Orang tua, apabila orang tua dari dini juga sudahmenitik beratkan di pendidikan moral, makan semua akan terduplikasi dengan baik.

Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.