Sebenarnya antibiotik adalah hal yang tidak perlu kita takutkan, asal penggunaannya secara bijak sesuai dengan kebutuhannya. Penggunaan antibiotik secara irasional inilah yang perlu kita waspadai, banyak pasien khususnya bayi menjadi objek pasar antibiotik oleh para dokter,memang tidak semua dokter sih, sekarang banyak juga dokter yang RUM (Rasional in use Medicine). tapi masih banyak para dokter yang sebel  apabila si pasien banyak bertanya alias bersikap kritis. Karena hal ini juga pernah saya alami J . Waktu itu anak saya sakit flu dah 3 hari, karena desakan orang tua, akhirnya saya bawalah ke dokter, kemudian di kasih resep. Saya tanya kandungan masing2 resep, salah satunya terdapat antibiotik, trus saya Tanya ke dokter “ dok anak saya sakit akibat virus kan? “  si dokter bilang “ iya” . “trus antiboitik ini buat apa dok, kurasa anak saya ngga perlu antibiotok dok “. Rupanya pak Dokter sebel..” ya sudahlah terserah ibu, klo ada apa – apa tanggung sendiri ya”.  Tapi Alhamdulillah beberapa hari kemudian anak saya sembuh tanpa antibiotik.

Seperti yang pernah dibilang oleh dr Purnamawati di harian kompas “Sebenarnya lucu jika kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita bayar. Terlebih yang kita bayar itu untuk dikonsumsi oleh anak yang merupakan amanat Tuhan”. Memang gejala yang menyertai flu kadang membuat orang tua panik, seperti demam, batuk, pilek. Oleh karena itu, tidak sedikit orang tua yang malah mendesak dokter untuk memberikan antibiotik, yang dianggap sebagai obat dewa. Tindakan pasien yang irasional inilah yang menuntut dokter jadi tukang sihir, padahal antibiotik tidak mempercepat atau membunuh virus flu

Dr Purnamawati, beliau adalah salah satu dokter yang aktif mengedukasi para orang tua dalam mengonsumsi produk dan jasa medis, termasuk melalui milis. Seperti yang dipaparkan dr Purnamawati, antibiotik berasal dari kata anti dan bios (hidup,kehidupan). Dengan demikian, antibiotik merupakan suatu zat yang bisa membunuh atau melemahkan suatu makhluk hidup, yaitu mikro-organisme (jasad renik) seperti bakteri, parasit, atau jamur. Antibiotik tidak dapat membunuh virus sebab virus memang bukan “barang” hidup. Ia tidak dapat berkembang biak mandiri dan membutuhkan materi genetic dari sel pejamu, misal sel tubuh manusia, untuk berkembang biak.

Mengenai hal itu, Purnamawati menanggapi, “Sejak lahir kita sudah dibekali dengan sistem imunitas yang canggih. Ketika diserang penyakit infeksi, sistem imunitas tubuh terpicu untuk lebih giat lagi. Infeksi karena virus hanya bisa diatasi dengan meningkatkan sistem imunitas tubuh dengan makan baik dan istirahat cukup, serta diberi obat penurun panas jika suhunya di atas 38,5 derajat Celsius. Jadi, bukan diberi antibiotik. Kecuali kalau kita punya gangguan sistem imun seperti terserang HIV. Flu akan sembuh dengan sendirinya, antibiotik hanya memberi efek plasebo (bohongan).”

Hal senada juga secara tegas dikatakan farmakolog Prof dr Iwan Darmansjah, SpFk. “Antibiotik yang diberi tidak seharusnya kepada anak malah merusak sistem kekebalan tubuhnya. Yang terjadi anak malah turun imunitasnya, lalu sakit lagi. Lalu jika dikasih antibiotik lagi, imunitas turun lagi dan sakit lagi. Terus begitu, dan kunjungan ke dokter makin sering karena anak tambah mudah sakit,” ujar Iwan.

PURNAMAWATI menggarisbawahi, antibiotik baru dibutuhkan anak ketika terserang infeksi yang disebabkan bakteri. Contoh penyakit akibat infeksi bakteri adalah sebagian infeksi telinga, infeksi sinus berat, radang tenggorokan akibat infeksi kuman streptokokus, infeksi saluran kemih, tifus, tuberkulosis, dan diare akibat amoeba hystolytica. Namun jika antibiotik digunakan untuk infeksi yang nonbakteri, hal itu malah menyebabkan berkembang biaknya bakteri yang resisten.

“Perlu diingat juga, untuk radang tenggorokan pada bayi, penelitian membuktikan 80- 90 persen bukan karena infeksi bakteri streptokokus, jadi tidak perlu antibiotik. Radang karena infeksi streptokokus hampir tidak pernah terjadi pada usia di bawah dua tahun, bahkan jarang hingga di bawah empat tahun,” kata Purnamawati.

 Beberapa keadaan yang perlu diamati jika anak mengonsumsi antibiotik adalah gangguan saluran cerna, seperti diare, mual, muntah, mulas/kolik, ruam kulit, hingga pembengkakan bibir, kelopak mata, hingga gangguan napas. “Berbagai penelitian juga menunjukkan, pemberian antibiotik pada usia dini akan mencetuskan terjadinya alergi di masa yang akan datang,” kata Purnamawati tandas.

Kemungkinan lainnya, gangguan akibat efek samping beberapa jenis antibiotik adalah demam, gangguan darah di mana salah satu antibiotik seperti kloramfenikol dapat menekan sumsum tulang sehingga produksi sel-sel darah menurun. Lalu, kemungkinan kelainan hati, misalnya antibiotik eritromisin, flucloxacillin, nitrofurantoin, trimetoprim, sulfonamid. Golongan amoxycillin clavulinic acid dan kelompok makrolod dapat menimbulkan allergic hepatitis. Sementara antibiotik golongan aminoglycoside, imipenem/meropenem, ciprofloxacin juga dapat menyebabkan gangguan ginjal.

Jika anak memang memerlukan antibiotik karena terkena infeksi bakteri, pastikan dokter meresepkan antibiotik yang hanya bekerja pada bakteri yang dituju, yaitu antibiotik spektrum sempit (narrow spectrum antibiotic). Untuk infeksi bakteri yang ringan, pilihlah yang bekerja terhadap bakteri gram positif, sementara infeksi bakteri yang lebih berat (tifus, pneumonia, apendisitis) pilihlah antibiotik yang juga membunuh bakteri gram negatif. Hindari pemakaian salep antibiotik (kecuali infeksi mata), serta penggunaan lebih dari satu antibiotik kecuali TBC atau infeksi berat di rumah sakit.

Jika anak terpaksa menjalani suatu operasi, untuk mencegah infeksi sebenarnya antibiotik tidak perlu diberikan dalam jangka waktu lama. “Bahkan pada operasi besar seperti jantung, antibiotik cukup diberikan untuk dua hari saja,” ujar Iwan. Purnamawati menganjurkan, para orangtua hendaknya selalu memfotokopi dan mengarsip segala resep obat dari dokter, dan tak ada salahnya mengonsultasikan kepada ahli farmasi sebelum ditebus.

Sejak beberapa tahun terakhir, sudah tidak ditemukan lagi antibiotik baru dan lebih kuat. Sementara kuman terus menjadi semakin canggih dan resisten akibat penggunaan antibiotik yang irasional. Inilah yang akan menjadi masalah besar kesehatan masyarakat. Antibiotik dalam penggunaan yang tepat adalah penyelamat, tetapi jika digunakan tidak tepat dan brutal, ia akan menjadi bumerang. “Antibiotik seperti pisau bermata dua. Untuk itu, media massa berperan besar menginformasikan hal ini dan tidak perlu khawatir jika industri farmasi ngambek tak mau beriklan,” tutur Iwan. (SF)

Sumber : kompas, 10 April 2005