Masa awal belajar di sekolah dasar merupakan saat menyiksa bagi Aigis
Arira. Gadis itu kesulitan membedakan huruf “b” dan “d”. Kedua huruf itu
sering terbalik di dalam benaknya. Pekerjaan menyalin pun sering salah
walaupun Aigis sudah duduk di bangku paling depan.

Suatu kali hendak menggambar kubus, hasilnya malah trapesium,” ujar
Aigis, seorang penyandang disleksia, saat berbagi kisah dalam acara
“Menuju Layanan Pendidikan Prima untuk Melindungi Seluruh Anak
Indonesia”, beberapa waktu lalu.

Aigis kini terdaftar sebagai mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta
di Bandung. Hasil sebuah perjalanan panjang. Di dunia pendidikan yang
didominasi keterampilan membaca, menulis, dan berhitung, Aigis harus
bekerja keras.

Disleksia berasal dari bahasa Yunani, yakni dys (kesulitan) dan lexia
(kata-kata), untuk menyebut gangguan yang memengaruhi pengembangan
keterampilan literasi dan bahasa. Orang dengan disleksia mengalami
masalah belajar spesifik, terutama terkait kata-kata.

Di dalam pikiran Aigis, misalnya, huruf-huruf dalam tulisan bercampur
aduk dan tidak beraturan sehingga sulit dibaca dan diingat.

*Intelegensia normal*

Dokter spesialis anak-konsultan saraf anak, Purboyo Solek, mengatakan,
anak disleksia berpotensi besar. Anak dengan disleksia memiliki
intelegensia normal atau di atas rata-rata. Hal itu yang membedakan anak
dengan kesulitan belajar spesifik seperti disleksia dengan kesulitan
belajar umumnya. “Berbeda dengan anak dengan kesulitan belajar yang
tingkat intelegensianya di bawah normal, seperti epilepsi lena atipikal,
down syndrom, dan sejumlah kasus autis. Disleksia sering kali
dicampuradukkan dengan gangguan belajar lainnya,” ujar Purboyo.

Sederet nama tokoh terkenal dan berpengaruh, seperti Albert Einstein
(ilmuwan), Tom Cruise (artis), Orlando Bloom (artis), Whoopi Goldberg
(artis), dan Lee Kuan Yew (mantan Perdana Menteri Singapura), tercatat
menderita disleksia.

Riyani T Bondan, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia, mengungkapkan, di
dunia, 10 hingga 15 persen anak sekolah menyandang disleksia. Dengan
jumlah anak sekolah di Indonesia sekitar 50 juta, diperkirakan 5 juta di
antaranya mengalami disleksia. “Tanpa penanganan tepat, negara rugi
lantaran orang yang sebetulnya intelegensinya baik jadi kesulitan
mengembangkan potensinya,” ujarnya.

*Berbasis neurologis*

Ketua Pelaksana Harian Asosiasi Disleksia Indonesia sekaligus dokter
spesialis anak, Kristiantini Dewi, mengungkapkan, disleksia bukan
disebabkan kebodohan, cara mengajar tidak baik, latar belakang ekonomi
buruk, kurangnya motivasi atau gangguan lain, seperti penglihatan atau
pendengaran. Disleksia berbasis neurologis. Otak individu disleksia
mempunyai cara berbeda dalam mengolah informasi terkait kata-kata. Cara
mereka membaca “tidak sama” dengan otak individu yang tidak disleksia.

Masalah utama yang timbul hanya yang terkait dengan membaca, mengeja,
dan menulis. Kesulitan lain yang mengikuti, antara lain, kesulitan
konsentrasi, daya ingat jangka pendek kurang, tidak terorganisasi, dan
kesulitan dalam menyusun atau mengurutkan sesuatu.

Namun, ada sisi positifnya. Mereka mempunyai kemampuan atau keterampilan
di area belajar lain yang biasanya baik atau bahkan jauh di atas
rata-rata. Mereka unggul dalam kemampuan visual spatial, analisis
masalah yang mendalam, kesadaran sosial, penyelesaian masalah, geometri,
catur, atau permainan di komputer. “Kemampuan ini jangan sampai
disia-siakan,” ujarnya.

Kristiani menjelaskan, ada dua tipe disleksia, yaitu developmental
dyslexia yang merupakan bawaan sejak lahir. Tipe lainnya ialah acquired
dyslexia yang didapat karena gangguan perubahan cara otak kiri membaca.
Penderita biasanya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan
otak kiri.

Developmental dyslexia disandang seumur hidup dengan kondisi berbasis
neurologis dan sering kali bersifat genetik. Berkisar 70-75 persen
disleksia adalah genetik. Sejumlah hasil penelitian, antara lain, Brain
abnormalities underlying altered activation in dyslexia: a voxel based
morphometry study yang dimuat dalam Journal of Neurology, Brain,
mengasosiasikan disleksia dengan disfungsi pada daerah abu-abu di otak.
Terjadi perubahan aktivasi dalam sistem membaca terkait dengan perubahan
kepadatan dari materi abu-abu dan putih pada daerah tertentu otak.
Disfungsi di bagian bermateri abu-abu itu terkait dengan perubahan
konektivitas di antara area fonologis (membaca).

Kristiantini menyebutkan ada beberapa tanda awal disleksia bawaan.
Tanda-tanda itu, antara lain, telat berbicara. Pada umur dua tahun,
misalnya, anak baru dapat mengucapkan satu atau dua patah kata. Anak
juga sering bingung atau tertukar antara kiri dan kanan. Gejala lainnya
ialah artikulasi tidak jelas dan terbalik-balik. “Kata kulkas, misalnya
menjadi kalkus,” ujar Kristiantini.

Beranjak di usia sekolah, kesulitan makin dirasakan lantaran anak mulai
dituntut membaca, menulis, dan berhitung. Anak kesulitan mempelajari
huruf, baik bentuk maupun bunyinya. Beberapa huruf sering kali tertukar,
seperti “b” dan “d”, “h” dan “a”, serta “t” dan “j”. “Pada awal anak
belajar membaca, huruf tertukar kadang terjadi. Namun, pada anak dengan
disleksia, kesulitan itu terus berlanjut,” ujarnya. Anak dengan
disleksia juga kesulitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan
membaca, kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam
rima.

Pertanda lainnya ialah bingung konsep ruang dan waktu serta kesulitan
mencerna serta mengikuti beberapa instruksi yang disampaikan secara
verbal, cepat, dan berurutan. “Jika ada tiga perintah yang diucapkan
secara cepat, kemungkinan hanya perintah terakhir yang diingat,” ujarnya.

Gangguan itu sering ditemukan bersama dengan gangguan pemusatan
perhatian atau konsentrasi, kesulitan matematika dan keterampilan
motorik, seperti masih tumpah ketika menyendok makanan walaupun sudah di
kelas I atau II sekolah dasar.

Menurut Kristiantini, identifikasi disleksia sebaiknya sedari dini
sehingga anak dapat dilatih cara belajar yang tepat dan sesuai
kebutuhannya. Jika terlambat, prestasi akademis terus turun, anak
kesulitan dalam ujian, mendapat stigma negatif, diganggu (bullying),
serta kesulitan dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan
membaca dan menulis.

Orangtua Aigis yang menyadari kondisi khusus putrinya lalu memindahkan
Aigis ke sekolah khusus, SD Pantara. Di sekolah khusus itu, Aigis
belajar dengan dukungan dan pemahaman penuh terhadap kebutuhan khususnya.

Setelah itu, dia melanjutkan ke SMP negeri, SMK negeri jurusan rekayasa
perangkat lunak, dan kini belajar di sebuah perguruan tinggi swasta
untuk menjadi programmer komputer. Aigis yakin impiannya menjadi
programmer kelak dapat diraih.

Sumber : kompas